Berkata Seandainya

[Perkataan Seandainya Membuka Pintu Syaitan]
Ibnu Masud radhiyallahu anhu berkata : Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : Seandainya tidak terjadi
(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)
.
Dalam hadits : Sesungguhnnya perkataan seandainya membuka amalan syaitan
.
Diantara amalan syaitan :  Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan seandainya sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai  Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil  Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifitas.
.
Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah Qoddarollahu wa maa syaa-a faala. (ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya
.
Yang berlalu biarlah berlalu, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita.
.
(Ustadz Firanda Andirja, hafizhohullah)
.
.

Haruskah Celana Cingkrang?

Celana Cingkrang
Pernah ada yang bertanya begini *
.
Apa hubungannya celana cingkrang sama masuk neraka?orang masuk surga itu karna amal ibadahnya kaliii…. bukan karna celana cingkrang  *
.
Ada juga yang pernah komentar begini
.
Kok aneh si masa baca yasin dikuburan aja ga boleh?kan isinya ayat ayat Alquran.alquran kan isinya baik toh. *
.
Atau komentar2 lainnya yang banyak bertanya dan mendebat dalil dalil dr Alquran dan As sunnah.
.
Maka setinggi apapun gelar anda,seluas apapun pemikiran anda,secerdas apapun anda, maka tidak akan mungkin bisa melebihi apa apa yang sudah Allah dan rasulNya sampaikan.
.
Ketika sudah ada dalil sohih maka sudah sepantasnya kita ikuti.Iya….Memang benar surga dan Neraka adalah haq Allah azza wa jala.tapi sungguh sombongnya apabila kita berharap surga dan syafaat dr rasulullah ,tapi masih mempertanyakan kenapa dan kenapa..kalau menurut kita ga nyambung gamau ngerjain ah…kl menurut logika kita bener baru deh mau ngerjain … *
.
Bayangkan.. apa jadinya islam kalau semua pakai logika masing masing? Ada yg enggan berhijab dgn alasan yang penting kan hatinya. Ada yg gamau sholat dgn alasan yg penting inget Allah aja dan berbuat baik.Ada juga yg mungkin akan berzina dgn alasan yang penting masih tetep sholat.
Kalaulah islam itu pakai logika,untuk apa Rasulullah diutus? Semua akan pakai logika masing2 dgn niat yg penting baik aja… *
.
Ibadah suka suka gw aja lah kan yang penting baik. *
.
Kalaulah islam itu agama logika,maka saat batal wudhu wktu buang gas mengapa kita disuruh mengulangi wudhu?mengapa tdk membasuh maaf (dub*r )saja.?
Karna dalilnya kita disuruh Berwudhu ulang ..bukan membasuh dub*r
.
Inilah logika kita kalau kita selalu menomorsatukan logika kita dalam ibadah..Tapi nyatanya tidak bs..karna islam adalah agama dalil.islam adalah agama wahyu. bukan agama logika.
.
Maka sudah seharusnya kita campakkan kecerdasan kita ,apabila sudah berhadapan dgn perkataan Allah dan rasulNya.

Orang Yang Sulit Diperbaiki

::: SULIT DIPERBAIKI… :::
Berkata al-Ustaadz DR. Syafiq bin Riza Basalamah -hafizhahullaah- (semoga Allaah menjaganya) dalam salah satu pengajian rutin beliau :
.
“Seseorang itu kalau sudah merasa ‘baik’… SULIT DIPERBAIKI”
.
Sungguh perkataan singkat yang amat menusuk dan amat dalam maknanya…
.
[1] Awal mula tertimpanya keburukan bagi seseorang, apabila dia merasa dirinya sebagai ‘orang baik’
.
Perkataan beliau ini mengingatkan kita tentang nasehat dari Ummul Mu`miniin ‘Aa`isyah radhiyallaahu ‘anha ketika beliau ditanya:
.
مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً
.
Kapan seseorang itu dikatakan buruk?
.
Beliau menjawab:
.
إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ
.
Ketika dia menyangka dirinya seorang yang baik.
.
(At-Taisiir bisyarh Al-Jaami’ as-Shoghiir 2/606; kutip dari web ust. firanda)
.
Benarlah perkataan beliau, awal mula keterperosokan seseorang dalam keburukan, ketika dia menilai dirinya sebagai seorang yang baik. Maka dia pun akan mulai merendahkan orang lain. Maka dia pun merasa serba-berkecukupan, sehingga menghalangi dirinya untuk terus memperbaiki segala keburukannya, kesalahannya, kekeliruannya, serta kekurangan-kekurangannya dalam penunaian kebaikan.
.
[2] Demikian pula, Seseorang itu sulit mendapatkan ilmu, ketika sudah merasa berilmu.
.
Fudhayl bin ‘Iyyaadh ditanyakan tentang tawadhu’, maka beliau menjawab:
.
أَنْ تَخْضَعَ لِلْحَقِّ وَتَنْقَادَ لَهُ وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ صَبِيٍّ قَبِلْتَهُ مِنْهُ، وَلَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ أَجْهَلِ النَّاسِ قَبِلْتَهُ مِنْهُ
.
Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya.
.
(Hilyatul Auliyaa’ 8/91; kutip dari web ust. firanda)
.
.

Penyanyi Adalah Muazinnya Syetan

Benarkah Musik Itu Haram ?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
.
“Termasuk perbuatan keji dan munkar adalah mendengarkan (alat-alat musik), seruling-seruling setan, dan seorang penyanyi adalah muazinnya syetan yang mengajak untuk taat kepadanya, karena nyanyian adalah mantra perzinahan.”
– Majmu Al Fatawa, 15/34 –
.
.

Hukum MLM Dalam Islam

MLM Hukumnya Haram
Fatwa Al Lajnah Ad Daimah no. 22935 tertanggal 14/3/1425 H menerangkan mengenai MLM yang terlarang terhimpun berbagai permasalahan berikut:
.
1. Di dalamnya terdapat bentuk riba fadhl dan riba nasi-ah. Anggota diperintahkan membayar sejumlah uang yang jumlahnya sedikit lantas mengharapkan timbal balik lebih besar, ini berarti menukar sejumlah uang dengan uang yang berlebih. Ini jelas adalah bentuk riba yang diharamkan berdasarkan nash dan ijma’. Karena sebenarnya yang terjadi adalah tukar menukar uang. Dan bukan maksud sebenarnya adalah untuk menjadi anggota (seperti dalam syarikat) sehingga tidak berpengaruh dalam hukum.
.
2. Di dalamnya terdapat bentuk ghoror (spekulasi tinggi atau untung-untungan) yang diharamkan syari’at. Karena anggota tidak mengetahui apakah ia bisa menarik anggota yang lain ataukah tidak. Pemasaran berjenjang atau sistem piramida jika berlangsung, suatu saat akan mencapai titik akhir. Anggota baru tidaklah mengetahui apakah ketika menjadi bagian dari sistem, ia berada di level tertinggi sehingga bisa mendapat untung besar atau ia berada di level terendah sehingga bisa rugi besar. Kenyataan yang ada, anggota sistem MLM kebanyakan merugi kecuali sedikit saja yang berada di level atas sehingga beruntung besar. Jadi umumnya, sistem ini mendatangkan kerugian dan inilah hakekat ghoror.
.
Ghoror adalah ada kemungkinan rugi besar atau untung besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang dari jual beli ghoror sebagaimana disebutkan oleh Muslim dalam kitab shahihnya.
.
3. Di dalam MLM terdapat bentuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Karena yang sebenarnya untung adalah perusahaan (syarikat) dan anggota telah ditentukan untuk mengelabui yang lain.
.
4. Di dalam muamalah ini terdapat penipuan dan pengelabuan terhadap manusia. Karena orang-orang mengira bahwa dengan menjadi anggota nantinya mereka akan mendapatkan untung yang besar. Padahal sebenarnya hal itu tidak tercapai. Ini adalah bentuk penipuan yang diharamkan dalam syari’at.
.

Selalu Istighfar

Istighfar
Bismillaah…
Siapa sih di dunia ini yg gak pernah berbuat salah?
Dengan taubat, Allah menghapuskan segala dosa…
.
“Katakanlah : ” Wahai hamba-hamba-Ku yg melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”. (QS. AZ Zumar : 53)
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” (HR Ibnu Majah)
.
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman :
.
“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berdosa siang dan malam, dan Aku maha mengampuni dosa, maka mintalah ampunan kepadaKu niscaya Aku akan mengampuni kalian”
 (HR Muslim)
.

Ibadah Harus Ada Dalil

Hukum Asal Ibadah, Haram Sampai Ada Dalil 
Sebagian kalangan mengemukakan alasan ketika suatu ibadah yang tidak ada dalilnya disanggah dengan celotehan, “Kan asalnya boleh kita beribadah, kenapa dilarang?” Sebenarnya orang yang mengemukakan semacam ini tidak paham akan kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal suatu amalan ibadah adalah haram sampai adanya dalil. Berbeda dengan perkara duniawi (seperti HP, FB, internet), maka hukum asalnya itu boleh sampai ada dalil yang mengharamkan. Jadi, kedua kaedah ini tidak boleh dicampuradukkan. Sehingga bagi yang membuat suatu amalan tanpa tuntunan, bisa kita tanyakan, “Mana dalil yang memerintahkan?”
.
Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,
.
الأصل في العبادات التحريم
.
“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”
.
Guru kami, Syaikh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri –semoga Allah menjaga dan memberkahi umur beliau- berkata, “(Dengan kaedah di atas) tidak boleh seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah kecuali jika ada dalil dari syari’at yang menunjukkan ibadah tersebut diperintahkan. Sehingga tidak boleh bagi kita membuat-buat suatu ibadah baru dengan maksud beribadah pada Allah dengannya. Bisa jadi ibadah yang direka-reka itu murni baru atau sudah ada tetapi dibuatlah tata cara yang baru yang tidak dituntunkan dalam Islam, atau bisa jadi ibadah tersebut dikhususkan pada waktu dan tempat tertentu. Ini semua tidak dituntunkan dan diharamkan.” (Syarh Al Manzhumah As Sa’diyah fil Qowa’idil Fiqhiyyah, hal. 90).
.

Rumah Yang Dilihat Penduduk Langit

—–

Di dunia ini ada rumah yang terlihat oleh penduduk langit. Seperti apakah rumah yang terlihat oleh penduduk langit tersebut ?

Nabi ﷺ bersabda:

إنَّ البيت ليُتلى  فيه القرآن؛ فيتراءى لأهلِ السماء كما تتراءى النجومُ لأهل الأرض
.
“Sesungguhnya rumah yang dibacakan di dalamnya al-Qur’an, maka rumah tersebut akan terlihat oleh para penduduk langit sebagaimana terlihatnya bintang-bintang oleh penduduk bumi.”

[Hadits dikeluarkan oleh Ahmad, Adz-Dzahabiy, Lihat kitab ash-Shahihah no. 3112].

 Maka janganlah rumah kita kosong dari tilawah ayat-ayat al-Qur’an, sehingga rumah kita tidak terlihat oleh penduduk langit.

 Rutinkan bacaan Qur’an di rumah kita agar rumah kita selalu terlihat oleh para penduduk langit.

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ القُرْآن..
Semoga para pembaca menjadi pecinta al Qur’an

Islam Bukan Agama Prasmanan

Ber-Islam secara Kaffah
—–
Tafsir ibn Kathir

Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, hendaklah mereka berpegang kepada tali Islam dan semua syariatnya serta mengamalkan semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya dengan segala kemampuan yang ada pada mereka.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Tawus, Ad-Dahhak, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, dan Ibnu Zaid sehubungan dengan firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya. (Al Baqarah:208) Yang dimaksud dengan as-silmi ialah agama Islam.

Ad-Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas sehubungan dengan firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam. (Al Baqarah:208) Yang dimaksud dengan as-silmi ialah taat. Qatadah mengatakan pula bahwa yang dimaksud dengan as-silmi ialah berserah diri.

Lafaz kaffah menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Abul Aliyah, Ikrimah, Ar-Rabi’ ibnu Anas, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan, Qatadah dan Ad-Dahhak artinya seluruhnya.

Mujahid mengatakan makna ayat ialah berkaryalah kalian dengan semua amal dan semua segi kebajikan.

Ikrimah menduga bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang dari kalangan orang-orang Yahudi dan lain-lainnya yang masuk Islam, seperti Abdullah ibnu Salam, Asad ibnu Ubaid, dan Sa’labah serta segolongan orang-orang yang meminta izin kepada Rasulullah Saw. untuk melakukan kebaktian pada hari Sabtu dan membaca kitab Taurat di malam hari.

Maka Allah memerintahkan mereka agar mendirikan syiar-syiar Islam dan menyibukkan diri dengannya serta melupakan hal lainnya.

Mengenai keterlibatan Abdullah ibnu Salam bersama mereka, masih perlu dipertimbangkan kebenarannya, karena mustahil dia meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan kebaktian di hari Sabtu, sedangkan dia selain memiliki iman yang sempurna, juga telah membuktikan bahwa hari Sabtu itu telah di-mansukh, dihapuskan, dan dibatalkan, kemudian diganti dengan hari-hari raya Islam.

Dari kalangan mufassirin ada orang yang menjadikan firman-Nya, “Kaffah,” sebagai hal (keterangan keadaan) dari lafaz ad-dakhilin, yakni masuklah kalian semua ke dalam Islam.


Tetapi pendapat yang benar adalah pendapat yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk mengamalkan semua cabang iman dan syariat Islam yang banyak sekali dengan segenap kemampuan yang mereka miliki.
Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abu Hatim, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepadaku Al-Haisam ibnu Yaman, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Zakaria, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Aun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya. (Al Baqarah:208) Dengan lafaz kaffah yang dibaca nasab menurut qiraah-nya, yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang mukmin dari kalangan Ahli Kitab. Karena sesungguhnya sekalipun telah beriman kepada Allah, mereka masih tetap berpegang kepada sebagian perkara kitab Taurat dan syariat-syariat yang diturunkan di kalangan mereka. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya. (Al Baqarah:208) Yakni masuklah kalian ke dalam syariat Nabi Muhammad Saw. dan janganlah kalian meninggalkan sesuatu pun yang ada padanya, dan tinggalkanlah apa yang ada di dalam kitab Taurat. Kalian hanya dituntut untuk beriman kepadanya saja, dan itu sudah cukup bagi kalian.
Firman Allah Swt.:
dan janganlah kalian turuti langkah-langkah setan. (Al Baqarah:208)
Maksudnya, kerjakanlah semua ketaatan, dan jauhilah apa yang diperintahkan oleh setan kepada kalian. Sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:
Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. (Al Baqarah:169)
Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Faathir’:6). Karena itulah maka dalam ayat ini Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.
Mutarrif mengatakan bahwa di antara hamba-hamba Allah yang paling banyak menipu sesama hamba-Nya adalah setan.

Berpegang Pada Tali Agama Allah

Bersatu dan Jangan Berpecah-belah
—–
Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)

Sesungguhnya, agama kita mengajarkan segala kebaikan yang dibutuhkan umat manusia. Sedangkan persatuan umat Islam merupakan salah satu prinsip terbesar agama ini. Maka sudah pasti terdapat cara mengobati penyakit perpecahan umat yang sudah berabad-abad lamanya menggerogoti tubuh ini!

Berikut diantara langkah menuju persatuan umat Islam yang didambakan.

Pertama. Memutuskan Perkara Dengan Al Kitab dan As Sunnah.

Kedua. Menetapi jalan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan meninggalkan seluruh bid’ah agama; mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ, mengikuti Sunnah dan pemahaman sahabat terhadap agama ini.

Ketiga. Ikhlas dan memurnikan mutaba’ah.

Keempat. Menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya.

Demikianlah sebagian langkah untuk merajut persatuan. Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin dan mengembalikan kemuliaan mereka.
*****

Design a site like this with WordPress.com
Get started